Chaterine Hogart

 



#KISAHTRAGIS CATHERINE HOGARTH: PEREMPUAN YANG DIHAPUS AGAR CHARLES DICKENS TETAP MENJADI PAHLAWAN MORAL. 

Sejarah sastra Inggris lama menempatkan Charles Dickens sebagai hati nurani moral zamannya penulis yang mengecam ketidakadilan, kemiskinan, dan penindasan terhadap perempuan. Namun di balik kanon besar itu, ada seorang perempuan yang dihapus dari narasi agar citra sang jenius tetap utuh: Catherine Hogarth. Ini bukan catatan kaki. Ini adalah kehidupan yang dibungkam.


AWAL YANG PENUH HARAPAN

Ketika Catherine bertemu Dickens, ia berusia 19 tahun. Dickens 23 tahun cerdas, ambisius, dan yakin dunia akan berputar di sekitar kata-katanya. Ia bekerja di surat kabar ayah Catherine, memenuhi ruangan dengan energi dan janji. Catherine dikenal lembut, artistik, dan musikal. Ia bernyanyi dengan merdu, pandai melukis, dan berasal dari keluarga Edinburgh yang terhormat. Menurut standar zamannya, ia adalah gambaran ideal seorang perempuan.

Mereka menikah pada 1836, tepat saat karier Dickens meledak lewat The Pickwick Papers. Hampir seketika, Catherine hamil dan kehamilan itu tak berhenti.


LIMA BELAS TAHUN YANG MENGURAS TUBUH

Dalam lima belas tahun, Catherine melahirkan sepuluh anak. sepuluh kehamilan, sepuluh persalinan, sepuluh masa pemulihan. 

Semua itu terjadi di era tanpa kontrasepsi, tanpa anestesi modern, dan tanpa pemahaman depresi pascapersalinan. Sementara Dickens bepergian, berpidato, mengedit majalah, dan membangun imperium sastra, Catherine tinggal di rumah mengurus bayi, kehamilan, penyakit, pelayan, dan arus tamu yang tak pernah putus.

Menjelang usia awal empat puluhan, hampir seluruh kehidupan dewasanya dihabiskan oleh hamil, menyusui, atau memulihkan diri. Tubuhnya berubah, energinya terkuras, dan dunianya menyempit menjadi sekadar bertahan hidup.


NARASI YANG DIBALIKAN

Saat Dickens menjelma menjadi penulis paling terkenal di dunia berbahasa Inggris, Catherine menjadi kelelahan dan tertekan. Alih-alih mengakui dampak fisik dan emosional dari tahun-tahun itu, Dickens kehilangan kesabaran. Dalam surat-surat kepada teman, Ia menggambarkan Catherine sebagai istri yang lamban, tidak cakap, dan tak mampu mengelola rumah tangga dengan sepuluh anak. Ia memilih tidur di kamar terpisah lalu menulis ulang kisah pernikahan mereka: bukan hubungan yang retak oleh kondisi, melainkan beban yang ia tanggung karena “kekurangan” istrinya.


ELLEN TERNAN DAN TITIK BALIK

Pada Tahun 1857, Dickens bertemu Ellen Ternan yang ber usia 18 tahun, seorang aktris muda. Dickens 45 tahun, menikah, termasyhur, dan nyaris tak tersentuh cela. Ketertarikan itu cepat dan mereka menjalin hubungan. Catherine tahu sebagaimana para istri sering tahu namun Inggris Victoria tak memberi perlindungan. Perceraian menuntut undang-undang Parlemen dan bukti perzinaan plus pelanggaran lain. Perempuan yang berpisah kehilangan anak-anak, penghasilan, dan reputasi. Catherine bertahan hingga 1858. Saat itulah Dickens memutuskan ketahanan itu tak lagi berguna.


PENGHANCURAN DIRUANG PUBLIK

Tak mampu menceraikan tanpa skandal, Dickens memaksakan perpisahan lalu menghancurkan Catherine di hadapan publik: Ia memindahkan Catherine dari rumah keluarga. Ia mempertahankan sembilan dari sepuluh anak. Catherine hanya diizinkan bertemu satu anak, putra sulung mereka, Charley. Lebih menyakitkan lagi, saudari Catherine, Georgina Hogarth, tetap tinggal bersama Dickens, membantu membesarkan anak-anak Catherine dan mengelola rumah tangganya.

Puncaknya, Dickens menerbitkan pernyataan di The Times: Catherine disebut kurang waras, ibu yang tak layak, dan penyebab perpisahan. Masyarakat Victoria mempercayainya. Mengapa tidak? Ia adalah penulis yang membuat bangsa menangis karena Tiny Tim.

Catherine tak punya suara. Hukum, adat, dan reputasi membungkamnya. Perempuan tak boleh membantah laki-laki di surat kabar nasional.


21 TAHUN DALAM SENYAP

Selama 21 tahun berikutnya, Catherine hidup tenang dan terasing:

Jarang bertemu anak-anaknya. Banyak anak berpihak pada ayah karena kepercayaan, ketakutan, atau warisan, Ia tak pernah menikah lagi, Ia tak pernah membela diri di ruang publik, Baru setelah kedua orang tua wafat, salah satu putri mereka berbicara. Kate Perugini menyatakan bahwa ibunya diperlakukan buruk dan ayahnya bersikap kejam.


PERMINTAAN TERAKHIR: KEBENARAN

Menjelang wafat pada 1879, Catherine menyerahkan kepada Kate sekumpulan surat yang ditulis Dickens pada awal pernikahan mereka surat-surat penuh kasih dan kelembutan. Permintaan terakhirnya bukan balas dendam, melainkan kebenaran: Serahkan surat-surat ini kepada British Museum, agar dunia tahu bahwa Dickens pernah mencintaiku.

Surat-surat itu kini berdiri sebagai bukti bahwa kisah yang Dickens sampaikan kepada dunia tidak utuh.


Sejarah kemudian menegaskan apa yang tak pernah Catherine ucapkan secara terbuka. Dickens mempertahankan Ellen Ternan sebagai kekasih selama bertahun-tahun, menempatkannya diam-diam, dan menjalani kehidupan ganda sementara tampil sebagai hati nurani moral bangsa.

Ia menulis tanpa henti tentang ketidakadilan dan perempuan yang dihancurkan sistem.

Dan ia melakukan hal yang sama kepada istrinya sendiri.

Catherine Hogarth melahirkan sepuluh anak, kehilangan rumah, reputasi, dan sebagian besar keluarganya. Di detik-detik terakhir hidupnya, pesannya sederhana dan menyayat:

Katakan kepada mereka bahwa ia pernah mencintaiku.

Ia tidak meminta simpati. Ia meminta kebenaran.

Sejarah akhirnya mendengarkan perlahan.

Kebenaran terungkap namun terlambat.


#Sejarah #Kisahtragis #kisahnyata #mitos #fakta #misteri #Citra

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IBU & IN MEMERIOM OF USTADZAH KHASANAH

Deep Talk Tipis-Tipis

Belajar Kosakata Bahasa Inggris via Game Hidde Objects