Muhyidin Ibu Arabi
Sebelum lo gebuk rame rame, tarik napas pelan pelan sambil nikmati kopimu…
Gini ceritanya….
Kalo lo bisa trave lintas waktu ke Damaskus sekitar 800 tahun yang lalu, lo nggak bakal nemuin kota yang tenang kayak di lukisan-lukisan religi. Nggak. Lo bakal nemuin kota yang brisik, penuh debu, dan isinya manusia-manusia yang lagi "sakit".
Bukan sakit fisik, tapi sakit jiwa.
Pasarnya rame, masjidnya penuh, pejabatnya sibuk wara-wiri naik kuda gagah. Sekilas, keliatan kayak peradaban Islam yang lagi jaya-jayanya.
Tapi di mata satu orang tua, semua itu cuma panggung sandiwara. Orang tua ini namanya Muhyiddin Ibnu Arabi.
Kalo lo liat dia sekilas, mungkin lo nggak bakal ngeh kalau dia itu Grandmaster-nya dunia Psikologi spiritual.
Dia jalan di tengah pasar Damaskus yang lagi gila harta. Lo bayangin situasinya: pedagang teriak-teriak nipu timbangan, pembeli nawar sadis, pejabat lewat minta jatah preman, ulama sibuk debat soal kulit luar agama biar dapet panggung.
Di tengah kekacauan itu, Ibnu Arabi berhenti. Dia ngerasa muak. Dia ngerasa perlu nampar kesadaran orang-orang ini. Bukan pake tangan, tapi pake kalimat yang bakal bikin satu kota meledak.
Dia naik ke tempat yang agak tinggi, dia hentakkan kakinya keras-keras ke tanah, terus dia teriak lantang:
"Rabbukum tahta qadamay!"
Artinya: "Tuhan kalian, ada di bawah telapak kakiku!"
Satu pasar hening. Detik berikutnya, pecah.
Lo bisa bayangin reaksi orang-orang "alim" di sana? Mereka yang jidatnya hitam bekas sujud, mereka yang hapal dalil, mereka yang merasa dirinya paling suci menjaga Tuhan. Denger orang tua bilang "Tuhan ada di bawah kaki", otak mereka langsung short circuit.Konslet.
"Penistaan!" teriak satu orang.
"Kafir!" sambung yang lain.
"Bunuh! Dia menghina Allah!"
Situasinya chaos.
Kalau hari ini ada Twitter, Ibnu Arabi udah jadi Trending Topic nomor satu sedunia dengan tagar #TangkapIbnuArabi. Orang-orang itu marah karena mereka pake logika teks. "Tuhan" ya Allah. "Di bawah kaki" ya penghinaan. Titik. Nggak ada koma.
Tapi Ibnu Arabi tenang aja. Dia nggak gentar. Kenapa? Karena dia ngeliat apa yang nggak bisa diliat sama orang-orang itu. Dia punya mata batin, sejenis X-Ray vision buat nembus dada manusia.
Saat dia bilang "Tuhan Kalian", dia jujur. Dia nggak lagi ngomongin Allah SWT Pencipta Semesta Alam. Dia lagi ngomongin "Tuhan" yang bener-bener disembah sama hati orang-orang Damaskus saat itu. Di hati mereka nggak ada Allah. Yang ada cuma duit, emas, jabatan, dan validasi sosial.
Dan secara harfiah, Ibnu Arabi tau. Di bawah tanah tempat dia berdiri, di bawah telapak kakinya itu, ada harta karun. Ada emas.
Jadi maksud dia tuh sebenernya sarkas banget: "Woy munafik! Lo semua marah gue bilang Tuhan di bawah kaki, padahal tiap hari lo sujud nyembah emas yang emang posisinya ada di dalem tanah ini! Lo semua budak materi!"
Tapi ya namanya massa, mana sempet mikir ginian? Bagi mereka, Ibnu Arabi udah divonis: Gila dan Sesat.
Nah, ini bagian sejarah yang sering dipelintir sama orang-orang tongkrongan yang cuma denger setengah-setengah. Banyak yang bilang abis kejadian itu Ibnu Arabi dibunuh. Dimutilasi. Darahnya tumpah.
Kalo lo denger cerita itu, gue kasih tau: Itu Hoax.
Yang dibunuh sadis (disalib dan dipotong-potong) itu Al-Hallaj, sufi yang hidup jauh sebelum Ibnu Arabi, yang teriak "Akulah Kebenaran". Itu beda server, beda kasus.
Nasib Ibnu Arabi sebenernya lebih "dingin" dan lebih menyakitkan daripada sekadar dibunuh fisik. Dia emang nggak dibunuh karena dia punya backing politik yang kuat. Dia kenal sama penguasa-penguasa Dinasti Ayyubiyah. Jadi secara fisik, nggak ada yang berani nyentuh dia.
Tapi masyarakat "membunuh" dia pelan-pelan.
Dia dikucilkan. Dianggap paria. Buku-bukunya dilarang beredar. Fatwa haram ditempel di mana-mana buat siapa aja yang berani baca tulisannya. Ibnu Arabi meninggal tua di tempat tidurnya sendiri, di Damaskus, tahun 1240 M.
Tapi setelah dia mati, penghinaan itu belum kelar. Makamnya di kaki Gunung Qasiyun dibiarkan terlantar. Nggak ada yang mau ngurus. Malah, saking bencinya orang-orang sama dia (gara-gara ucapan "Tuhan di bawah kaki" itu), makamnya dijadiin tempat pembuangan sampah.
Lo bayangin. Seorang Wali Kutub, intelektual jenius yang karyanya ribuan lembar, makamnya jadi tempat buang sampah. Selama ratusan tahun, nama dia busuk. Dia dianggap sebagai simbol kesesatan.
Seolah-olah, ucapan dia itu jadi kutukan. Tapi Ibnu Arabi, sebelum dia mati, sempet ninggalin satu "kode". Kayak time capsule yang cuma bisa dibuka di masa depan. Dia pernah bilang satu kalimat misterius:
"Idza dakhala as-Sin fi as-Syin, dzahara qabru Muhyiddin."
(Ketika huruf S (Sin) masuk ke dalam huruf Sy (Syin), maka akan nampaklah kuburan Muhyiddin).
Orang-orang zaman itu mikir, "Ah, ini racauan orang tua gila lagi." Nggak ada yang peduli. Kode itu terkubur bareng jasadnya yang ditumpuk sampah. Waktu berlalu. 100 tahun, 200 tahun, hampir 300 tahun. Generasi berganti, kerajaan runtuh, kerajaan baru bangkit.
Masuk ke abad 16, sekitar tahun 1516-1517 M. Muncul kekuatan baru yang mengerikan dari Utara: Turki Utsmani (Ottoman).
Sultannya waktu itu namanya Sultan Selim I (Yavuz Sultan Selim). Ini orang bukan kaleng-kaleng. Dia keras, tegas, penakluk ulung, tapi dia punya rasa hormat yang gila sama dunia spiritual. Dia bukan tipe pemimpin yang cuma mikirin pajak, dia mikirin "langit".
Pasukan Sultan Selim bergerak mau naklukin wilayah Syam (Suriah) dan Mesir. Nah, di sinilah "kode" Ibnu Arabi pecah.
* Sin (S) = Salim (Selim I).
* Syin (Sy) = Syam (Damaskus/Suriah).
Pas Sultan Selim (S) berhasil masuk dan naklukin kota Syam (Sy), ramalan itu kejadian. Konon, Sultan Selim dapet mimpi atau firasat kuat yang nyuruh dia nyari makamnya Sang Syaikhul Akbar, Ibnu Arabi.
Sultan nanya ke ulama setempat, "Mana makam Ibnu Arabi?"
Ulama setempat bingung, bahkan sinis. "Ngapain cari makam orang sesat itu, Sultan? Udah ilang, tuh di gundukan sampah sana."
Sultan Selim nggak peduli. Dia dateng ke lokasi kumuh di kaki Gunung Qasiyun itu. Baunya busuk, penuh belukar. Tapi insting dia bilang, di sini ada "Mutiara" yang ketutup lumpur.
Dia perintahin pasukannya buat gali. Bersihin sampahnya. Gali tanahnya.
Dan di momen inilah, sejarah ngasih plot twist terbaiknya.
Pas mereka ngegali tepat di titik makam itu—titik di mana dulu Ibnu Arabi pernah berdiri dan teriak "Tuhan di bawah kakiku"—cangkul prajurit ngebentur sesuatu yang keras.
Bukan batu. Bukan tulang.
Tapi Emas.
Harta karun. Jumlahnya banyak banget.
Detik itu juga, semua orang yang ada di situ merinding. Sultan Selim sadar, Ibnu Arabi nggak pernah bohong.
Dia bener secara majaz: Tuhan orang dulu emang emas.
Dia bener secara harfiah: Emang ada emas di bawah kakinya.
Emas itu baru "keluar" ketika ada orang yang ngerti (Sultan Selim) yang dateng buat memuliakan Ibnu Arabi. Coba bayangin malunya ulama-ulama Damaskus saat itu.
Ratusan tahun leluhur mereka ngehujat Ibnu Arabi sebagai penista agama, ternyata leluhur merekalah yang "penista Tuhan" karena lebih cinta sama emas yang terpendam itu.
Sultan Selim akhirnya pake emas temuan itu buat bangun masjid dan kompleks makam yang megah banget di atas kuburan Ibnu Arabi. Masjid itu berdiri sampe sekarang. Nama Ibnu Arabi dipulihkan. Dari yang tadinya dianggap "sampah", balik lagi jadi "Sultanul Arifin".
Terus, gimana kita yang hidup di zaman sekarang mesti nyikapin ginian? Apa kita harus jadi kayak Ibnu Arabi yang teriak-teriak nyeleneh? Atau jadi kayak massa yang gampang ngamuk?
Di sinilah gue mau pinjem kacamata-nya Gus Baha.
Nah, Gus Baha ini pernah bahas kasus model Ibnu Arabi atau Al-Hallaj ini. Cara dia mandang masalah tuh fair banget, nggak berat sebelah.
Kata Gus Baha, konflik ini tuh sebenernya cuma masalah Beda Frekuensi.
1. Sisi Ibnu Arabi (Frekuensi Langit)
Ibnu Arabi itu posisinya lagi Jadzab. Dia lagi mabuk cinta Tuhan. Matanya udah X-Ray. Dia nggak liat casing, dia liat isi.
Lo bayangin lo punya kacamata yang bisa liat isi hati orang. Terus lo liat orang lagi salat, tapi di hatinya ada gambar duit. Lo pasti bakal teriak kan? "Woy, lo nyembah duit!"
Nah, Ibnu Arabi itu jujur. Dia nggak salah. Di mata Tuhan, dia itu kekasih-Nya yang lagi curhat jujur. Dia bener.
2. Sisi Hakim/Masyarakat (Frekuensi Bumi)
Tapi... Gus Baha juga bilang, Hakim atau Ulama Fiqih yang memvonis sesat Ibnu Arabi saat itu, mereka juga bener.
Lho kok bisa dua-duanya bener?
Kata Gus Baha, tugas Hakim itu ngejaga Public Order (ketertiban umum). Agama itu ada aturannya, ada SOP-nya buat orang awam.
Bayangin kalau omongan "Tuhan ada di bawah kakiku" itu dibolehin beredar bebas tanpa sensor.
Besok-besok, preman pasar yang lagi mabuk arak bisa aja naik mimbar terus bilang "Gue Tuhan". Kalau ditangkep, dia bakal ngeles, "Lho, Ibnu Arabi boleh, masa gue nggak?"
Rusak tatanan dunia.
Syariat itu pagar. Hakikat itu isinya. Pagar harus tetep ditegakkan biar isinya nggak diinjek-injek sembarang orang.
Makanya Gus Baha punya quote yang ngeri:
"Wali yang dihukum mati (seperti Al-Hallaj) itu masuk surga, tapi Hakim yang mutusin hukuman mati juga masuk surga."
Si Wali masuk surga karena kejujuran tauhid-nya.
Si Hakim masuk surga karena dia ngejalanin tugasnya ngejaga agama Allah dari fitnah orang awam.
Ini pelajaran mahal banget buat kita.
Kita sering banget ribut "Siapa yang Paling Benar". Padahal bisa jadi, dua-duanya bener tapi beda konteks. Beda level. Beda dimensi.
Apa yang bisa lo bawa pulang dari cerita panjang ini?
Ibnu Arabi ngajarin kita satu hal: Jangan ketipu sama casing.
Dunia ini penuh sama orang-orang yang luarnya "Tuhan" tapi dalemnya "Emas". Luarnya "Pejuang Rakyat" tapi dalemnya "Pemburu Proyek". Luarnya "Sahabat" tapi dalemnya "Pengkhianat".
Lo harus punya kecerdasan buat liat apa yang ada "di bawah kaki" mereka. Apa motif aslinya.
Dan dari Gus Baha, kita belajar soal Tahu Diri.
Kalau lo belum selevel Ibnu Arabi, jangan gaya-gayaan ngomong nyeleneh biar dibilang sufi. Itu namanya cringe. Tapi kalau lo liat ada orang yang beda pandangan, jangan buru-buru ambil pentungan dan teriak kafir. Siapa tau, dia lagi liat sesuatu yang mata lo belum nyampe ke sana.
Jadilah kayak Sultan Selim.
Dia punya kekuasaan, dia punya pedang, tapi dia mau nunduk hormat sama kebenaran, walau kebenaran itu terkubur di tumpukan sampah. Dia yang akhirnya dapet "emas"-nya.
Hidup itu bukan soal siapa yang paling keras teriaknya. Tapi siapa yang paling ngerti esensinya. Orang yang udah "selesai sama dirinya sendiri", dia nggak butuh validasi lo. Dia nggak butuh lo percaya. Karena dia tau, cepet atau lambat, waktu yang bakal ngebuktiin semuanya.
Dalam kasus yg sama gue juga punya Pertanyaan: KENAPA Tuhan modern TUNDUK SAMA ORANG SARUNGAN Kayak Gus Baha misalnya?
Lo liat sendiri kan faktanya?
Orang-orang yang punya jabatan tinggi—yang tanda tangannya bisa nyairin triliunan rupiah atau gerakin pasukan tank—tiba-tiba jadi kayak anak kecil yang anteng kalau duduk di depan Gus Baha. Padahal Gus Baha nggak punya jabatan struktural, nggak punya partai, duitnya juga nggak dipamerin.
Lo kepo kenapa? Jawabannya ada di satu hukum alam yang nggak tertulis tapi mutlak:
"Orang yang nggak menginginkan dunia, adalah Tuan dari dunia itu sendiri."
Coba lo bayangin logika "power" kayak gini:
Seorang Jenderal atau Konglomerat itu kuat karena mereka punya sesuatu yang orang lain pengen. Mereka punya duit, punya kuasa. Orang tunduk sama mereka karena orang butuh atau takut sama apa yang mereka punya.
Tapi, senjata itu tumpul total di depan orang kayak Gus Baha.
Lo mau nyogok dia pake duit? Dia ketawa. Dia udah cukup sama rezekinya.
Lo mau intimidasi dia pake jabatan? Dia senyum. Bagi dia, jabatan lo itu cuma titipan Allah yang besok pagi bisa dicabut.
Lo mau tawarin dia panggung atau ketenaran? Dia malah lari, lebih suka ngaji di pojokan desa.
Di sinilah letak mengerikannya.
Ketika lo nggak bisa "dibeli", nggak bisa "ditakut-takuti", dan nggak butuh "pengakuan", lo otomatis jadi manusia paling powerful di ruangan itu.
Mereka (para pejabat dan orang kaya itu) sadar. Jauh di lubuk hati mereka yang paling dalem, mereka itu sebenernya "budak". Budak protokoler, budak citra, budak target perusahaan, budak elektabilitas. Hidup mereka diatur sama sistem.
Terus mereka ngeliat Gus Baha.
Orang yang pake kemeja kancingnya salah, pecinya miring, ketawanya lepas tanpa beban. Gus Baha adalah representasi dari "THE FREE MAN" (Manusia Merdeka).
Manusia yang bener-bener "selesai" sama dirinya sendiri.
Tanpa sadar, "Tuhan-Tuhan Kecil" (Harta, Tahta, Jabatan) yang nempel di badan para pejabat itu, sujud di kaki orang yang nggak peduli sama mereka.
Jadi, balik lagi ke omongan Ibnu Arabi tadi: "Tuhan kalian ada di bawah kakiku."
Gus Baha mempraktikkan itu dengan cara paling elegan. Dia nggak perlu teriak-teriak dan nginjek tanah kayak Ibnu Arabi. Cukup dengan dia hidup sederhana, bahagia, dan nggak silau sama kemewahan, dia secara otomatis udah nginjek "Tuhan Dunia" itu di bawah telapak kakinya.
Dunia itu persis kayak bayangan.
Kalau lo kejar (kayak orang-orang pasar Damaskus itu), dia bakal lari ngejauh.
Tapi kalau lo balik badan dan jalan menuju Matahari (Tuhan yang asli) kayak Gus Baha…
Itu bayangan (Dunia, Harta, Tahta) nggak punya pilihan lain selain ngikutin lo dari belakang, tunduk persis di bawah kaki lo.
Itulah kenapa mereka tunduk. Bukan karena Gus Baha minta dihormati, tapi karena aura "kemerdekaan"-nya bikin segala jenis kekuasaan duniawi jadi keliatan kerdil dan nggak ada harganya.
Di copy dr https://www.facebook.com/share/p/1J2KERUSTg/
Komentar
Posting Komentar