Pada November 2001 di Pangkalan Bun, jurnalis Media Lintas Khatulistiwa ini disergap secara brutal oleh sekelompok orang suruhan mafia kayu setelah ia konsisten membongkar praktik pembalakan liar di Taman Nasional Tanjung Puting. Serangan itu sangat klinis dan mematikan; mandau-mandau tajam menghantam sekujur tubuhnya, merampas empat jari tangannya, dan meninggalkan luka yang membutuhkan lebih dari 350 jahitan. Namun, di balik tubuh yang hancur itu, ada prinsip yang tidak bisa dipotong oleh bilah apa pun. Banyak yang bertanya mengapa Abi Kusno tetap memilih jalur berbahaya ini ketika nyawa sudah di ujung tanduk. Keberaniannya berakar pada satu keyakinan sederhana namun tajam: "Haram bagi saya untuk takut. Jika jurnalis takut mengungkap kebenaran, maka kejahatan akan menjadi penguasa tunggal di tanah ini." Baginya, menjadi jurnalis di tengah kepungan mafia kayu bukan sekadar profesi, melainkan bentuk pertahanan terakhir bagi hutan Borneo yang sedang dijarah habis-habisa...